Under Publishing House, Added at 2018-09-25 12:19:41

Sebagai Kota Pelajar, Jogja merupakan surganya buku buat warga Indonesia. Selain menjamurnya penerbit-penerbit mayor maupun indie di kota ini, acara-acara buku pun makin marak. Sebenarnya fenomena ini nggak cuma terjadi di Jogja saja, tetapi di seluruh penjuru negeri. Apa itu artinya? Artinya, literasi warga Indonesia mulai membaik meskipun sedikit.

Kampung Buku Jogja


Salah satu acara beken di Jogja yang rutin diadakan tahunan adalah Kampung Buku Jogja (KBJ)—sebuah tempat kembali dan bertemunya buku dengan dirimu.

Tahun 2018 ini, KBJ sudah kali keempat diadakan. Tahun ini temanya adalah Jejak Langkah Orang-Orang Buku dengan tamu literasi kehormatan MADURA.

Peminatnya? Jangan ditanya. Acara yang diadakan selama 4 hari berturut-turut di PKKH UGM ini ramai terus tiap harinya. Kebanyakan dari yang berdatangan adalah mereka yang menikmati ‘buku-buku berat’ atau bacaan serius dengan tema sastra, sejarah, politik, dan lain-lain.

Lalu apa saja sih yang ada di KBJ 4 ini? Banyak dong. Ada kuliah umum, kelas-kelas, orasi, launching buku, talkshow Jejak Langkah, bedah buku, dan juga hiburan.

Nah, kebetulan Stiletto mampir ke KBJ saat Talkshow Penulis Favorit Saya: Jejak Langkah Penulis Perempuan. Seru banget loh talkshow yang dinarasumberi oleh Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA (dosen Sastra Prancis FIB, UGM), Kalis Mardiasih (penulis), dan Yona Primadesi (dosen UNP dan penulis) dan dimoderatori oleh Amanatia Junda (penulis). 

 

Kampung Buku Jogja

 

Mereka berempat, dan audiens tentu saja, membahas tentang penulis-penulis perempuan serta karya-karyanya yang kemudian dikaitkan dengan feminisme yang akhir-akhir ini sering sekali menjadi perdebatan. Talkshow yang berlangsung selama dua jam itu seru banget lho. Audiens sangat aktif menanyakan hal-hal yang diserempet oleh narasumber. Artinya, banyak yang tertarik dengan tema literatur feminisme.

Salah seorang audiens yang menanyakan apakah gerakan-gerakan feminisme mengancam literasi feminisme? Ketiga narasumber menyetujui bahwa keduanya merupakan hal yang berbeda, jadi gerakan-gerakan feminisme tidak mengancam literasi feminisme. 

Menjelang penutupan talkshow, ketiga narasumber diminta memberikan ‘last words’. Ibu Wening berpesan bahwa penulis (baik perempuan maupun laki-laki) harus sadar akan posisinya dalam konteks equality atau kesetaraan. Mereka harus bisa mensubjekkan objek-objek, bukan meminggirkan.

Lalu Mbak Kalis berpesan bahwa diskriminasi perempuan oleh tradisi dalam teks-teks lama harus didobrak dengan tafsir baru mengingat kemajuan zaman.

Sedangkan Mbak Yona berpesan bahwa penulis harus mampu memetakan dirinya dengan baik. Baik dalam tulisan maupun kehidupan sosial. Selain itu perenungan terhadap sebuah peristiwa harus ditingkatkan karena dari situlah sebuah masterpiece terlahir.

Seru ya? Banget.

Nggak sabar nungguin KBJ selanjutnya. Kira-kira tema apa lagi ya yang diusung panitia?

 


Share this: