Under Publishing House, Added at 2018-09-18 19:05:03

Halaman-halaman awal sebuah buku adalah pintu. Halaman awal-awal sebuah buku adalah impresi awal yang akan dibaca oleh pembaca atau penerbit. Begitulah kalau kamu ingin menulis novel.

“I let myself go at the beginning and write with an easy mind, but by the time I get to the middle I begin to grow timid and to fear my story will be too long… That is why the beginning of my stories is always very promising and looks as though I were starting on a novel, and the middle is huddled and timid, and the is…like fireworks.” – Anton Chekov

 

Tugas penulis adalah untuk menjaga atensi audiens supaya terus membaca.

 

Untuk melakukannya, lakukan 11 hal ini di halaman-halaman awal kalau kamu ingin menulis novel

 

Menulis novel

 

1. Pembukaanmu harus menggambarkan keseluruhan cerita.

Tanpa terlalu banyak detail, audiens harus tahu bagaimana setting ceritamu. Di mana tempatnya? Kapan waktunya? Bagaimana cuacanya? Bagaimana perasaan karakter utama?

Saat menulis novel, ceritakan secukupnya apa saja yang perlu disebutkan agar pembaca bisa membayangkan adegan pertama dan membantu pembaca memberi atensi pada karakter utama.

 

2. Pembukaanmu harus memperkenalkan karakter protagonis.

Audiens membutuhkan sesuatu yang simpatetik, yang relatable dengan mereka, atau melihat karakter melakukan sesuatu yang heroik. Audiens secara natural akan membayangkan penampilan karakter utama di dalam kepalanya. 

Jadi, daripada menggambarkan penampilan detailnya, lebih baik disebutkan sedikit demi sedikit saja. Impresi awal audiens pada karakter utama kita harus aktif.

Jangan membuat awalan karakter utama melakukan hal-hal dasar seperti bangun tidur, lalu melihat ke luar jendela. Recognize this scene? Yep, Cinderella. Klise!

“Plot is no more than footprints left in the snow after your characters have run by on their way to incredible destinations.” – Ray Bradbury

 

3. Pembukaanmu harus menunjukkan sudut pandang dan narasi yang jelas.

Hal ini penting karena keduanya menunjukkan tone cerita.

Pilih karakter mana yang akan diceritakan saat kamu menulis novel, yang punya a lot to lose, yang hubungan emosionalnya kuat dengan tema novel. Lalu, gunakan pilihan kata yang unik untuk karakter itu.

 

4. Pembukaanmu harus memberikan hint tema.

Sekilas saja. Saat pertama kali membaca, audiens sebaiknya tidak melihat hubungan pembukaan ini dengan keseluruhan cerita.

Kalau temamu kuat dan konsisten, mereka akan kembali ke awal dan melihat apa yang kamu tuliskan di sana. Buat tema dan maksudmu understated. Lebih bagus kalau kamu sudah punya draft keseluruhan cerita dulu sebelum membuat adegan pembukaan.

 

5. Pembukaanmu tidak harus memiliki karakter yang mudah disukai.

Malah, fokuslah membuat mereka menarik. Apa pun yang kamu lakukan padanya, buatlah semenarik mungkin agar audiens mau tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Sepertiga halaman bukumu boleh digunakan untuk meyakinkan mereka kalau protagonismu layak didukung.

“A novel is a tricky thing to map.” – Reif Larsen

 

6. Pembukaanmu harus cepat dengan aksi yang jelas.

Bab pertama bukanlah tempat yang tepat untuk introspeksi mendalam, kontemplasi atau menjelaskan masa lalu tragis protagonis.

Semua itu bisa dijelaskan di seperempat halaman bukumu saat dia berdebat ingin melanjutkan perjalanannya atau tidak. Di awal, berkonsentrasilah untuk meyakinkan audiens bahwa karaktermu menarik diikuti.

 

7. Pembukaanmu harus menjelaskan status quo.

Bagaimana kehidupan si karakter utama? Hanya dalam beberapa halaman, kamu harus bisa menulis novel yang mampu memberikan kejutan untuk audiens. Agar mereka bereaksi dengan baik dan peduli terhadap protagonis, mereka harus tahu bagaimana kondisi "peace" bagi si karakter utama ini.

Jika dilakukan dengan efektif, pembaca akan lebih bersimpati padanya dan berharap karakter itu melanjutkan perjalanan yang lebih menantang.

“I almost always urge people to write in the first person. Writing is an act of ego and you might as well admit it.” – William Zinsser

 

8. Pembukaanmu harus menjelaskan apa yang menjadi keinginan mendalam protagonis meskipun singkat.

Seiring dengan pembentukan cerita, kamu bisa menambahkan hal ini.

Ceritamu mulai menunjukkan apa yang menjadi keinginan mendalam protagonis. Ungkapkan dengan pilihan-pilihan sederhana yang mereka buat, sesuatu yang mereka katakan, atau bagaimana mereka bereaksi terhadap situasi.

Pastikan keinginannya signifikan: harus sesuatu yang universal, yang relatable dengan semua orang.

 

9. Pembukaanmu harus memiliki insiden menarik.

Meskipun tidak terlalu penting, insiden inilah yang nantinya akan menjadi landasan kejadian apa saja yang akan terjadi pada karakter utama. Sering kali insidennya tidak terduga dan ekstrem.

“There is nothing to writing. All you do is sit down at a typewriter and bleed.” – Ernest Hemingway

 

10. Pembukaanmu harus memiliki pegangan figuratif maupun literal bagi karakter utama.

Karakter utama memasuki kehidupan baru atau fase baru kehidupan yang tidak familier.

 

11. Pembukaanmu harus menanyakan sesuatu.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Self-explanatory ya poin ini. smiley

 

Nah, gimana, Stilovers? Saat kamu menulis novel, naskahmu itu sudah punya kesebelas hal ini belum? Yuk dicek! Bagikan di Instagram Stiletto Book ya.

 

Salam,

Desi Tuparman
IG @desituparman


Share this: